Create your blog and photo album with postbit
Create your blog and photo album

Create new post

Content:

Upload a picture:
Tags (keywords separated by comma)

Save Cancel
lindahlcruz61:   Followers: 0 ; Following: 0


Arti Aqiqah Menurut Kepercayaan Islam



Pikir bahasa ‘Aqiqah artinya: mengotes. Asalnya disebut ‘Aqiqah, sebab dipotongnya lembut binatang dengan penyembelihan ini. Ada yang mengatakan bahwa aqiqah merupakan nama untuk hewan yang disembelih, dinamakan demikian karena lehernya dipotong Ada pun yang menunjukkan bahwa ‘aqiqah itu asalnya ialah: Rambut yang ada pada oknum si budak ketika ia keluar mulai rahim ibu, rambut tersebut disebut ‘aqiqah, karena ia mesti dicukur.

Aqiqah merupakan penyembelihan domba/kambing untuk momongan yang dilahirkan pada hari ke tujuh, 14, / 21. Jumlahnya 2 sudut untuk bocah laki-laki dan 1 ekor untuk momongan perempuan.

Dalil-dalil Pelaksanaan

Mulai Samurah bin Jundab dia berkata: Rasulullah bersabda: “Semua anak balita tergadaikan dengan aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya disembelih hewan (kambing), diberi identitas dan dicukur rambutnya. ” [HR Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad]

Mulai Aisyah dia berkata: Rasulullah saw bersabda: “Bayi laki-laki diaqiqahi dengan dua kambing yang serupa dan bayi perempuan satu kambing. ” [HR Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah]

Anak-anak ini tergadai (tertahan) dengan aqiqahnya, disembelih hewan untuknya dalam hari ketujuh, dicukur kepalanya dan diberi nama. ” [HR Ahmad]

Atas Salman bin ‘Amir Ad-Dhabiy, dia berkata: Rasululloh berfirman: “Aqiqah dijalankan karena kelahiran bayi, dipastikan sembelihlah hewan dan hilangkanlah semua gangguan darinya. ” [Riwayat Bukhari]

Dari ‘Amr bin Syu’aib daripada ayahnya, dari kakeknya, Rasulullah saw bersabda:

“Barangsiapa diantara kalian yang ingin menyembelih (kambing) karena kemunculan bayi dipastikan hendaklah ia lakukan untuk laki-laki dua kambing yang sama dan untuk perempuan mono kambing. ” [HR Abu Dawud, Nasa’i, Ahmad]

Dari ‘Aisyah RA, ia berkata, “Rasulullah SAW tahu ber ‘aqiqah untuk Rancak dan Husain pada hari ke-7 mulai kelahirannya, beliau memberi pamor dan mengharuskan supaya dihilangkan kotoran daripada kepalanya (dicukur)”. [HR. Hakim, di AI-Mustadrak juz 4, sesuatu. 264]

Tanda: Hasan & Husain adalah cucu Rasulullah saw SAW.

Daripada Fatimah binti Muhammad ketika melahirkan Hasan, dia mengatakan: Rasulullah bersabda: “Cukurlah rambutnya dan bersedekahlah dengan galuh kepada orang miskin seberat timbangan rambutnya. ” [HR Ahmad, Thabrani, serta al-Baihaqi]

Mulai Abu Buraidah r. a.: Aqiqah tersebut disembelih di hari ketujuh, atau keempat belas, ataupun kedua puluh satunya. (HR Baihaqi serta Thabrani).

Patokan Aqiqah Bani adalah sunnah (muakkad) sesuai pendapat Imam Malik, warga Madinah, Kepala Syafi'i dan sahabat-sahabatnya, Kepala Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur dan kebanyakan ulama terampil fiqih (fuqaha).

Dasar yang dipakai sambil kalangan Syafii dan Hambali dengan mengatakannya sebagai jasad yang sunnah muakkadah merupakan hadist Rasul SAW. Yang berbunyi, “Anak tergadai secara aqiqahnya. Disembelihkan untuknya di hari ketujuh (dari kelahirannya)”. (HR al-Tirmidzi, Hasan Shahih)

“Bersama anak laki-laki ada aqiqah, maka tumpahkan (penebus) darinya darah sembelihan dan gebyur darinya buangan (Maksudnya potong rambut rambutnya). ” (HR: Ahmad, Al Bukhari dan Ashhabus Sunan)

Titik lidah: “maka tumpahkan (penebus) darinya darah sembelihan” adalah rodi, namun sungguh bersifat tetap, karena terselip sabdanya yang memalingkan daripada kewajiban ialah: “Barangsiapa di antara kalian ada yang ingin menyembelihkan bagi anak-nya, oleh karena itu silakan lakukan. ” (HR: Ahmad, Debu Dawud dan An Nasai dengan sanad yang hasan).

Perkataan: “ingin menyembelihkan,.. ” merupakan kaidah yang menjungkalkan perintah yang pada dasarnya tetap menjadi sunnah.

Imam Raja berkata: Aqiqah itu laksana layaknya nusuk (sembeliah denda larangan haji) dan udhhiyah (kurban), bukan boleh pada aqiqah itu hewan yang picak, kurus, patah rangka, dan sakit. Imam Asy-Syafi’iy berkata: Serta harus dihindari dalam satwa aqiqah ini cacat-cacat yang tidak diperbolehkan pada qurban.

Buraidah berkata: Dulu kami di masa jahiliyah apabila melenceng seorang diantara kami mempunyai anak, ia menyembelih kambing dan mengotori kepalanya beserta darah wedus itu. Jadi setelah Tuhan mendatangkan Agama islam, kami menggorok kambing, menyikat (menggundul) oknum si bocah dan melumurinya dengan minyak wangi. [HR. Duli Dawud perkara 3, sesuatu. 107]

Atas ‘Aisyah, ia berkata, “Dahulu orang-orang dalam masa jahiliyah apabila meronce ber’aqiqah untuk seorang bayi, mereka melumuri kapas secara darah ‘aqiqah, lalu saat mencukur serabut si bayi mereka mengurapkan pada kepalanya”. Maka Nabi SAW bertitah, “Gantilah kebiasaan itu beserta minyak wangi”.[HR. Rumpun Hibban dengan tartib Ibnu Balban surah 12, sesuatu. 124]

Kegiatan aqiqah dari sisi kesepakatan karet ulama adalah hari ketujuh dari kemunculan. Hal ini berdasarkan hadits Samirah pada mana Nabi SAW menitahkan, “Seorang bujang terikat beserta aqiqahnya. Ia disembelihkan aqiqah pada hari ketujuh & diberi nama”. (HR. al-Tirmidzi).

Namun demikian, apabila terlewat dan tidak bisa dilaksanakan pada hari ketujuh, ia bisa dijalankan pada hari ke-14. Meski tidak juga, maka pada hari ke-21 atau saat saja ia mampu. Kepala Malik mengatakan: Pada dzohirnya bahwa keterikatannya pada hari ke 7 (tujuh) kepada dasar bujukan, maka takut-takut menyembelih saat hari di 4 (empat) ke 8 (delapan), ke 10 (sepuluh) atau setelahnya Aqiqah itu telah semua. Karena pijakan ajaran Islam adalah memudahkan bukan menyusahkan sebagaimana tutur Allah SWT: “Allah mengkhayalkan kemudahan bagimu dan gak menghendaki kesulitan bagimu”. (QS. Al Baqarah: 185)

Kegiatan aqiqah disunnahkan pada hari yang ketujuh dari kelahiran, ini bertolak pada sabda Nabi SAW, yang artinya: “Setiap anak itu tergadai dengan hewan aqiqahnya, disembelih darinya pada hari ke tujuh, dan dia dicukur, & diberi pamor. ” (HR: Imam Ahmad dan Ashhabus Sunan, dan dishahihkan sama At Tirmidzi)

Dan jika tidak sanggup melaksanakannya di hari ketujuh, maka mampu dilaksanakan dalam hari ke empat belas, dan apabila tidak siap, maka pada hari ke dua persepuluhan satu, itu berdasarkan hadits Abdullah Putra Buraidah atas ayahnya atas Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam, sira berkata yang artinya: “Hewan aqiqah itu disembelih dalam hari ketujuh, ke empat belas, & ke dua puluh satu. ” (Hadits hasan babad Al Baihaqiy)

Namun setelah tiga ahad masih gak mampu jadi kapan sekadar pelaksanaannya pada kala sungguh mampu, sebab pelaksanaan di dalam hari-hari di tujuh, di empat belas dan ke dua persepuluhan satu adalah sifatnya sunnah dan paling utama bukan wajib. Dan boleh pula melaksanakannya pra hari ke tujuh.

Momongan yang tenang dunia sebelum hari ketujuh disunnahkan juga untuk disembelihkan aqiqahnya, apalagi meskipun bocah yang kelulusan dengan tumpuan sudah berusia empat kamar di dalam lembaga ibunya.

Aqiqah adalah syari’at yang ditekan kepada ayah si momongan. Namun bila seseorang yang belum dalam sembelihkan satwa aqiqah oleh orang tuanya hingga ia besar, oleh sebab itu dia dapat menyembelih aqiqah dari dirinya sendiri, Syaikh Shalih Al Fauzan berkata: Dan bila tidak diaqiqahi oleh ayahnya kemudian dia mengaqiqahi dirinya sendiri oleh karena itu hal itu tidak apa-apa menurut aku, wallahu ‘Alam.

Hukum Aqiqah Setelah Dewasa/Berkeluarga

Pada dasarnya aqiqah disyariatkan untuk dilaksanakan di hari ketujuh dari kemunculan. Jika gak bisa, oleh sebab itu pada hari keempat belas. Dan jika bukan bisa pula, maka dalam hari ke-2 puluh satu. Selain ini, pelaksanaan aqiqah menjadi tanggungan ayah.

Akan tetapi demikian, kalau ternyata begitu kecil ia belum diaqiqahi, ia dapat melakukan aqiqah sendiri dalam saat mantap. Satu pada al-Maimuni bertanya kepada Kepala Ahmad, “ada orang yang belum diaqiqahi apakah saat besar ia boleh mengaqiqahi dirinya sendiri? ” Kepala Ahmad meningkah, “Menurutku, kalau ia belum diaqiqahi ketika kecil, oleh karena itu lebih cantik melakukannya sendiri saat mendalam. Aku tidak menganggapnya makruh”.

Para pengikut Imam Syafi’i juga mereken demikian. Pendapat mereka, anak-anak yang sungguh dewasa yang belum diaqiqahi oleh orang-orang tuanya, dianjurkan baginya untuk melakukan aqiqah sendiri.

Banyak Hewan

Banyak hewan aqiqah minimal merupakan satu kontrol baik untuk laki-laki / pun untuk perempuan, sebagaimana perkataan Pelerai demam Abbas ra: “Sesungguh-nya Nabi SAW mengaqiqahi Hasan & Husain wahid domba wahid domba. ” (Hadits shahih riwayat Abu Dawud & Ibnu Al Jarud)

Aku harus pulih bahwa Lembut dan Husain adalah budak kembar. Jadi pada mono kelahiran ini disembelih 2 ekor kibas.

Namun yang lebih yang utama adalah 2 ekor untuk anak laki-laki & 1 termuda untuk keturunan perempuan menurut hadits-hadits dibawah ini:

Ummu Kurz Al Ka’biyyah berkata, yang artinya: “Nabi SAW menyabdakan agar dsembelihkan aqiqah atas anak laki-laki dua ekor kambing dan dari anak perempuan satu sudut. ” (Hadits sanadnya shahih riwayat Imam Ahmad serta Ashhabus Sunan)

Dari Aisyah ra berkata, yang artinya: “Nabi SAW memerintahkan itu agar disembelihkan aqiqah mulai anak laki-laki dua ekor kambing yang cocok dan mulai anak perempuan satu termuda. ” (Shahih riwayat At Tirmidzi)

Hal-hal yang disyariatkan sehubungan dengan ‘aqiqah

Yang berhubungan dengan sang bani

1. Disunnatkan untuk menyampaikan nama dan mencukur sabut (menggundul) di hari ke-7 sejak hari iahirnya. Contohnya lahir di hari Esa, ‘aqiqahnya mati pada hari Sabtu.

2. Bagi bani disunnatkan ber’aqiqah dengan dua ekor kambing sedang untuk anak cewek 1 sudut.

3. ‘Aqiqah ini terutama dibebankan terhadap orang tua si anak, tapi boleh pula dilakukan sama keluarga lainnya (kakek & sebagainya).

4. Aqiqah berikut hukumnya sunnah.

Daging Aqiqah Lebih Indah Mentah Ataupun Dimasak

Disarankan agar dagingnya diberikan di kondisi sungguh dimasak. Hadits Aisyah ra., “Sunnahnya dua ekor kibas untuk anak laki-laki dan mono ekor wedus untuk bani perempuan. Ia dimasak tanpa mematahkan tulangnya. Lalu dimakan (oleh keluarganya), dan disedekahkan pada hari ketujuh”. (HR al-Bayhaqi)

Daging aqiqah dikasih kepada tetangga dan gelandangan miskin pun bisa dikasih kepada orang2 non-muslim. Makin jika sesuatu itu dimaksudkan untuk menarik simpatinya dan dalam rangka dakwah. Dalilnya adalah panduan Allah, “Mereka memberi makan orang nista, anak yatim, dan tahanan, dengan sikap senang”. (QS. Al-Insan: 8). Menurut Ibn Qudâmah, tawanan pada tatkala itu merupakan orang-orang membelot. Namun demikian, keluarga pun boleh membersihkan sebagiannya.

Yang berhubungan beserta binatang sembelihan

1. Di dalam masalah ‘aqiqah, binatang yang boleh dipergunakan sebagai sembelihan hanyalah kibas, tanpa menjamu apakah jantan atau betina, sebagaimana hal di lembah ini:

Daripada Ummu Kurz AI-Ka’biyah, bahwasanya ia relasi bertanya menurut Rasulullah SAW tentang ‘aqiqah. Maka ceramah beliau SAW, “Ya, untuk anak laki-laki dua ekor kambing dan untuk anak perempuan satu upaya kambing. Tidak menyusahkanmu bagus kambing ini jantan atau pun betina”. [HR. Ahmad dan Tirmidzi, dan Tirmidzi menshahihkannya, pada Nailul Authar 5: 149]

Dan kita belum meraih dalil yang lain yang menampakkan adanya hewan selain wedus yang dipergunakan sebagai ‘aqiqah.

2. Waktu yang dituntunkan oleh Nabi SAW menurut dalil yang shahih yakni pada hari ke-7 semenjak kelahiran bani tersebut. [Lihat pendapat riwayat ‘Aisyah dan Samurah di atas]

Pembagian ketuat Aqiqah

Mengenai dagingnya oleh karena itu dia (orang tua anak) bisa memakannya, menghadiahkan sebagian dagingnya, & mensedekahkan sebagian lagi. Syaikh Utsaimin berkata: Dan bukan apa-apa dia mensedekahkan darinya dan menjumput kerabat dan tetangga untuk menyantap target daging aqiqah yang sudah biasa matang. Syaikh Jibrin berkata: Sunnahnya dia memakan sepertiganya, menghadiahkan sepertiganya kepada sahabat-sahabatnya, dan mensedekahkan sepertiga juga kepada kaum muslimin, dan boleh mengundang sohib-sohib dan kerabat untuk menyantapnya, atau larat juga dia mensedekahkan semuanya. Syaikh Pelerai demam Bazz mengatakan: Dan kamu bebas memilih antara mensedekahkan seluruhnya atau sebagiannya dan memasaknya lantas mengundang orang2 yang kamu lihat sedang diundang dari kalangan nenek, tetangga, teman2 seiman serta sebagian sosok faqir untuk menyantapnya, & hal sedarah dikatakan per Ulama-ulama yang terhimpun dalam Al lajnah Ad Daimah.

Pemberian Nama Keturunan

Tidak diragukan lagi kalau ada kaitan antara definisi sebuah identitas dengan yang diberi nama. Hal ini ditunjukan secara adanya sekitar nash syari yang menyatakan hal tersebut.

Dari Serbuk Hurairoh Ra, Nabi SAW bersabda: “Kemudian Aslam mudah-mudahan Allah menyelamatkannya dan Ghifar semoga Tuhan mengampuninya”. (HR. Bukhori 3323, 3324 serta Muslim 617)

Ibnu Al-Qoyyim berkata: “Barangsiapa yang menggubris sunah, ia akan mendapatkan bahwa makna-makna yang terkandung dalam pamor berkaitan dengannya sehingga bagai makna-makna ini diambil darinya dan seakan-akan nama-nama ini diambil daripada makna-maknanya”. Dan jika anda ingin mengetahui buah nama-nama terhadap yang diberi nama (Al-musamma) maka perhatikanlah hadits di bawah tersebut:

Dari Said bin Musayyib dari bapaknya dari kakeknya Ra, ia berkata: Saya datang terhadap Nabi SAW, beliau pun bertanya: “Siapa namamu? ” Aku menjawab: “Hazin” Nabi berkata: “Namamu Sahl” Hazn berkata: “Aku tidak akan merobah nama penghargaan bapakku” Pelerai demam Al-Musayyib berkata: “Orang itu senantiasa bergaya keras tentang kami setelahnya”. (HR. Bukhori) (At-Thiflu Wa Ahkamuhu/Ahmad Al-’Isawiy hal 65)

Oleh karena itu, penamaan yang indah untuk anak-anak menjadi salah satu kewajiban pengampu. Di antara nama-nama yang baik yang menarik diberikan merupakan nama rasul penghulu zaman yaitu Muhammad. Sebagaimana sabda beliau: Mulai Jabir Ra dari Nabi SAW sira bersabda: “Namailah dengan namaku dan janganlah engkau memakai kunyahku”. (HR. Bukhori 2014 dan Muslim 2133)

Untuk mengetahui jalan pemberian nama yang baik pikir ajaran Agama islam, silahkan kelompok:

Memberi Identitas Bayi atau Anak Dengan Islami


Memotong Rambut

Memotong rambut ialah anjuran Rasul yang luar biasa baik untuk dilaksanakan ketika anak yang baru real pada hari ketujuh.

Di dalam hadits Samirah disebutkan kalau Rasulullah saw. Bersabda, “Setiap anak terpukau dengan aqiqahnya. Pada hari ketujuh disembelihkan hewan untuknya, diberi pamor, dan dicukur”. (HR. at-Tirmidzi).

Dalam kitab al-Muwaththâ` Kepala Malik menyampaikan bahwa Fatimah menimbang ukuran rambut Rancak dan Husein lalu beliau menyedekahkan argentum seberat sabut tersebut.

Tiada ketentuan apakah harus digundul atau gak. Tetapi yang jelas pencukuran tersebut kudu dilakukan secara rata; gak boleh hanya mencukur sekitar kepala & sebagian yang lain dibiarkan. Tentu saja semakin banyak serabut yang dicukur dan ditimbang semakin -insya Allah- semakin besar juga sedekahnya.

Undangan Menyembelih Satwa Aqiqah

Bismillah, Allahumma taqobbal min muhammadin, wa aali muhammadin, wa min ummati muhammadin.

Memiliki arti: Dengan pamor Allah, sungguh Allah terimalah (kurban) mulai Muhammad & keluarga Muhammad serta mulai ummat Muhammad. ” (HR Ahmad, Orang islam, Abu Dawud)

Doa balita baru dilahirkan

Innii u’iidzuka bikalimaatillaahit taammati min kulli syaythaanin wa haammatin wamin kulli ‘aynin laammatin

Berarti: Aku berlindung untuk keturunan ini beserta kalimat Yang mahakuasa Yang Baik dari seluruh gangguan syaitan dan huru-hara binatang bersama gangguan sorotan mata yang dapat mengangkat akibat leta bagi segala sesuatu yang dilihatnya. (HR. Bukhari)

Hikmah Aqiqah

Aqiqah Dari sisi Syaikh Abdullah nashih Ulwan dalam kitab Tarbiyatul Aulad Fil Agama islam sebagaimana dilansir di satu situs memiliki beberapa moral diantaranya:

1. Menghidupkan sunnah Nabi Muhammad SAW dalam meneladani Nabiyyullah Ibrahim AMERIKA SERIKAT tatkala Allah SWT menebus putra Ibrahim yang tercinta Ismail AS.

2. Pada aqiqah berikut mengandung unsur perlindungan daripada syaitan yang dapat mengganggu anak yang terlahir ini, dan ini sesuai beserta makna hadits, yang mempunyai: “Setiap keturunan itu tergadai dengan aqiqahnya. ” [3]. Sehingga Anak yang sudah ditunaikan aqiqahnya insya Yang mahakuasa lebih terlindung dari seloroh syaithan yang sering meniadakan anak-anak. Sesuatu inilah yang dimaksud per Al Kepala Ibunu Al Qayyim Al Jauziyah “bahwa lepasnya dia dari syaithan tergadai sebab aqiqahnya”.

3. Aqiqah yaitu tebusan hutang anak untuk memberikan syafaat bagi ke-2 orang tuanya kelak di dalam hari perhitungan. Sebagaimana Kepala Ahmad menyiarkan: “Dia tergadai dari menyampaikan Syafaat untuk kedua orang tuanya (dengan aqiqahnya)”.

4. Merupakan kerangka taqarrub (pendekatan diri) terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala sekaligus serupa wujud mencicip syukur buat karunia yang dianugerahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan lahirnya si anak.

5. Aqiqah guna sarana menunjukkan rasa ribut dalam mengusahakan syari’at Islam & bertambahnya keturunan mukmin yang dengan memperbanyak umat Rasulullah SAW pada hari kiamat.

6. Aqiqah memperkuat ukhuwah (persaudaraan) diantara masyarakat.

Dan masih banyak sedang hikmah yang terkandung di dalam pelaksanaan Syariat Aqiqah ini.

Pengertian Aqiqah, Dalil Syari Tentang Aqiqah, Hukum Aqiqah Oleh Bubuk Muhammad ‘Ishom bin Mar’i[Disalin serta diringkas kembali dari kitab “Ahkamul Aqiqah” karya Duli Muhammad ‘Ishom bin Mar’i, terbitan Maktabah as-Shahabah, Jeddah, Saudi Arabia, dan diterjemahkan oleh Mustofa Mahmud Tanah al-Bustoni, dengan judul “Aqiqah” terbitan Titian Ilahi Press, Yogjakarta, 1997] domba aqiqah bandung

Post by lindahlcruz61 (2017-01-20 20:51)

Post your comment:

Name: Email: Site:


| Explore users | New posts | Create your blog | Create your photo album |
| About Postbit | Our blog | Terms of use | Contact Postbit |


Copyright © 2017 - postbit.com